Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam
semoga tercurah bagi Muhammad Rasulillah, para sahabat dan pengikutnya.
Mahram adalah para wanita yang dilarang bagi lelaki untuk menikahinya (Shahih Fiqh Sunnah
III/71). Di antara mahram seorang laki-laki adalah ibu istri (mertua)
dan istri anak (menantu perempuan) sebagaimana disebutkan dalam
Al-Qur’an:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ
وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ
وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ الاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ
وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ
وَرَبَآئِبُكُمُ الاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ الاَّتِي
دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَجُنَاحَ
عَلَيْكُمْ وَحَلآَئِلُ أَبْنَآئِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَن
تَجْمَعُوا بَيْنَ اْلأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَاقَدْ سَلَفَ إِنَّ اللهَ كَانَ
غَفُورًا رَّحِيمًا
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anak
perempuanmu, saudari-saudarimu, saudari-saudari bapakmu, saudari-saudari
ibumu, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu; anak-anak perempuan
dari saudari-saudarimu, ibu-ibu yang menyusui kamu, saudari sepersusuan,
ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu
dari isteri yang telah kamu campuri; tetapi jika kamu belum campur
dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu
mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu
(menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang
bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’: 23)
Ibu mertua (bahkan termasuk ibu dari ibu dan bapak mertua –pen) dan
menantu (istri anak kandung) telah menjadi mahram seorang lelaki dengan semata-mata sahnya akad nikah sepasang suami istri, sekalipun mereka belum melakukan hubungan badan. (Al-Wajiz Syaikh Abdul Azhim Badawi hal. 293, Syarh Zaadil Mustaqni’ Syaikh Shalih Fauzan hal.462)
Ini berdasarkan keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“(Diharamkan atas kamu mengawini) ibu-ibu isterimu (mertua).” (QS. An-Nisaa’: 23)
“…(dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu)” (QS. An-Nisaa’: 23)
Perlu dicermati bahwa “istri anak” tidak sama dengan “anak perempuan istri”. Istri anak menjadi mahram bapak mertua dengan semata-mata akad nikah, walau belum melakukan hubungan badan, sementara anak perempuan istri baru menjadi mahram suami ibu jika ibunya telah digauli suami barunya.
Terdapat kaidah yang dapat memudahkan memahaminya:
العقد على البنات يحرم الأمهات والدخول بالأمهات يحرم البنات
“Akad dengan anak perempuan mengharamkan para ibunya, dan persetubuhan dengan para ibu mengharamkan anak perempuan.” (Syarh Mukhtashar Khalil, Al-Khurasyi 9/12, Hasyiyah Ad-Dasuqiy ‘ala Syarh Al-Kabir 8/23, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah 4/38, Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan 98/13)
Selanjutnya, hubungan mahram dengan ibu mertua ini adalah untuk selamanya (mu’abbad). Artinya, sekalipun seorang suami sudah mentalak istrinya, maka mertua tetap mahram menantu.
Demikian, Semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai sarana dakwah
yang ikhlas untuk agama-Nya dan menambah faedah ilmu bagi
saudara-saudara kami yang membacanya.
Ditulis oleh ustadz Muflih Safitra bin Muhammad Saad Aly