JAKARTA– Penyerangan terhadap tempat ibadah umat Islam kembali terulang di Indonesia yang penduduknya memeluk agama Islam terbesar sedunia. Belum hilang dari benak kita penyerangan yang dilakukan oleh kafir Nasrani terhadap Masjid Baitul Muttaqin Karubaga Kabupaten Tolikara, Papua, disaat umat Islam hendak melaksanakan sholat Idul Fitri.
Kini penyerangan terhadap tempat ibadah umat Islam kembali terjadi di Bali yang umat Islamnya minoritas. Banyak kalangan yang menyayangkan terjadinya penyerangan tersebut dan menuntut pihak kepolisian menangkap pelaku penyerangan.
Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) asal Bali Kadek Kim Alan Moestaqiem Dahlan al Bali mengatakan perusakan masjid di Jimbaran dan Nusa Dua bukan sekedar tindakan kriminal. Tindakan mereka dengan menyerang dan merusak masjid adalah murni tindakan yang bersifat suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
“Apa namanya jika kaca masjid dipecahkan, karpet diinjak-injak oleh puluhan orang kalau bukan SARA?”, ujarnya pada hari Senin (7/12/2015).
Dahlan mengatakan jika murni kasus kriminal biasanya hanya ditangani oleh pihak kepolisian saja. Tetapi kini, Komandan Kodim juga turun untuk melakukan penyelidikan kasus tersebut. Perusakan dan penyerangan masjid merupakan bukti adanya intimidasi umat Muslim di Bali.
Seharusnya pemerintah ikut turun tangan juga terkait masalah ini karena sudah meresahkan umat Islam yang ada di sana. Mereka harus beraktivitas dengan tidak nyaman, baik bersekolah maupun bekerja, tambahnya.
Menurut dia, sebelum kejadian penyerangan di Masjid Jami Abdurrahman, Jimbaran, sempat terjadi tindakan provokasi yang sama di kawasan Candi Kuning. Polres Tabanan segera turun tangan dan kedua belah pihak saling meminta maaf.
Namun, selang empat hari dari peristiwa itu terjadilah penyerangan yang mengakibatkan suasana menjadi mencekam. [AN/dbs] (Manjanik.com) December 7, 2015
KUTA (Arrahmah.com) – Jelang Pilkada serentak, 9 Desember mendatang, segerombolan pemuda merusak sejumlah masjid di Bali, yakni Masjid Jami Abdurrahman Bin Auf di Kuta, Masjid Baitul Mustaqim dan Masjid Al Hidayah di kawasan Jimbaran.
Masjid Jami Abdurrahman Bin Auf Yayasan Baitul Ummah di Taman Grya Jimbaran, Kuta, Badung, Bali, dirusak dan kotrak amalnya dicuri, Sabtu (5/12/2015) dini hari .
Akibatnya, fasilitas masjid seperti kaca pintu dan karpet rusak serta uang dalam kotak amal sebanyak Rp 300 ribu raib.
Menurut penjaga masjid, Sugiono, kejadian tersebut diketahui saat ia memasuki masjid pada pukul 03.00 untuk shalat subuh. Sugiono terkejut melihat keadaan masjid yang berantakan. Kejadian itu langsung dilaporkan kepada Takmir Masjid, Haji Muhammad Fauzi, lapor Jurnaislam.com.
Kejadian serupa, menurut Haji Fauzi, menimpa sejumlah masjid Bali. Sebelumnya, pencurian dan perusakan terjadi di Masjid Baitul Mustaqim dan Masjid Al Hidayah di kawasan Jimbaran.
“Kejadian tadi malam adalah keempat kalinya, sebenarnya isi kotak amal sudah kami ambil hari jumat siang sehingga kami perkirakan hanya sekitar Rp 300 ribu saja yang dibawa pelaku,” kata sekretaris MUI Badung itu, lansir Jurnaislam.com
Merespon kejadian tersebut, sejumlah ulama, kepala lingkungan dan aparat kemudian menggelar pertemuan di masjid Abdurrahman bin Auf, Sabtu (5/12/2015) siang.
Dalam pertemuan itu, Kapolsek Bualu, Kompol I Wayan Latra mengatakan, kejadian tersebut dilakukan oleh sekitar 10 orang dan kejahatan murni.
“Kejadian ini murni pencurian disertai pengrusakan yang dilakukan orang tidak dikenal berjumlah kurang lebih 10 orang. Dengan bukti kotak amal yang dibawa keluar serta kaca pintu mesjid pecah karena dipaksa oleh orang tersebut. Jadi ini tidak ada indikasi lain,” jelasnya.
I Wayan menegaskan, pihaknya akan melakukan pengusutan lebih lanjut. “Mohon pihak lain agar menyampaikan hal ini tidak secara berbeda,” katanya.
Sementara itu Kelian Adat Banjar Anjar Swara, Ketut Rene mengungkapkan hubungan umat beragama di daerahnya harmonis.
“Kami disini bersama umat muslim, hindu dan umat lain hubungan sangat baik dan harmonis, saling menghormati satu sama lain. Kami juga sering melaksanakan pertemuan baik di Banjar maupun di Masjid dalam rangka silaturahmi,” jelasnya.
“Saling menghormati sesama umat beragama dan sejauh ini kami tidak ada permasalahan apa apa disini,” kata Kelian Dinas, Bapak Sudine menyambut pernyataan Ketut Rene.
Tanggapan juga disampaikan ketua MUI Badung, H Soim. Beliau mengajak umat Islam untuk merapatkan barisan dan meredam pemberitaan yang tidak benar.
“Ini bukan kasus SARA atau apapun, ini cuma pencurian. Kita sebagai jemaah merapatkan barisan kita dan harus bisa meredam jangan sampai berita yang tidak benar menyebar kemana-mana,” tuturnya.
Sementara Kapolsek Kuta Selatan Kompol Made Mundra mengatakan, selain mencuri para pelaku juga merusak kaca masjid dan menginjak-injak karpet di dalamnya.
“Kejadian ini pada dini hari. Mereka mencuri dengan cara merusak kaca masjid, kami perkirakan pelaku ada 10 orang. Diperkirakan isi kotak amalnya ada uang sekira Rp300 ribu,” kata Kapolsek Kuta, dikutip dari Okezone Senin (7/12/2015).
Mundra menambahkan, saat lokasi diperiksa polisi, di masjid itu ada batu berserakan. Polisi kini mendalami kasus tersebut.
“Kami sedang mendalami kasus ini. Peristiwa ini murni percobaan pencurian dengan melakukan pengerusakan,” katanya. (azm/arrahmah.com)


