Apa itu haikal Sulaiman? Bikin orang penasaran.
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Haikal Sulaiman, haikal dalam bahasa Ibrani artinya baitul ilah (Baitullah).
Berdasarkan riwayat dari Yahudi, bahwa Nabi Daud ‘alaihis salam adalah
orang yang pertama kali berencana membangun Haekal. Namun beliau wafat
sebelum rencana itu terlaksana. Kemudian rencana itu dilanjutkan oleh
putranya, Sulaiman ‘alaihis salam. Beliau membangun Haekal di
atas gunung Muria, yang lebih dikenal dengan Piramida Suci. Tempat ini
di atas masjidil aqsha, dan masjid kubah batu.
Haekal ini sangat diagungkan orang yahudi. Mereka anggap itu tempat
ibadah yang mulia. Dan Sulaiman membangun tempat ini untuk mereka dan
keturunan mereka.
(Fatwa Islam, no. 230200)
Dalam Ensiklopedi tentang Inggris, terbitan tahun 1926 M (teks berbahasa arab)
أن اليهود يتطلعون إلى اجتماع الشعب اليهودي في فلسطين
واستعادة الدولة اليهودية وإعادة بناء الهيكل وإقامة عرش داود في القدس
ثانية وعليه أمير من نسل داود
Bahwa Yahudi berencana mengumpulkan semua masyarakat Yahudi di
Palestina, dan menyiapkan pembangunan negara yahudi, serta membangun
kembali Haekal, mengembalikan singgasana Daud di kota Quds kedua, dan
harus ada penguasa dari keturunan Daud.
Sejarah Haekal Tidak Pasti?
Kita belum bisa memastikan keberadaan Haekal, apakah itu benar-benar
ada ataukah hanya konspirasi sejarah yang dibangun Yahudi untuk
memotivasi masyarakatnya agar bisa menjajah Palestina. Artinya, tidak
kita benarkan dan juga tidak kita ingkari. Karena berita ahli kitab, ada
kemungkinan benar dan ada kemungkinan dusta.
Karena itulah, dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
beliau mengatakan, “Orang ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa ibrani
dan menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada kaum muslimin.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم، وقولوا: آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ
“Janganlah kalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula
mendustakannya, namun ucapkan: Kami beriman dengan kitab yang diturunkan
kepada kami (alquran) dan kitab yang diturunkan kepada kalian.” (HR. Bukhari, 4485)
Dan sebenarnya kita – sebagai umat islam – tidak memiliki banyak
kepentingan dengan keberadaan Haekal ini. Percaya maupun tidak percaya
dengan keberadaannya, tidak membuat kita lebih beriman. Sehingga bisa
jadi akan sia-sia waktu kita, ketika info semacam ini harus kita cari
dengan mendalam.
Jika informasi tentang keberadaan Haekal itu benar, islam tidak pernah menolaknya. Karena islam tidak pernah menolak realita.
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
